fbpx

Kisah Abu Sufyan bin Harits, Ketua Pemuda Surga

Tidak ada tali-temali yang menghubungkan dua pribadi seperti yang mengikat Rasulullah SAW dengan Abu Sufyan bin Harits. Dua insan itu lahir nyaris bersamaan. Keduanya sebaya dan dibesarkan dalam keluarga yang sama. 
Abu Sufyan—bukan Abu Sufyan bin Harb, ayah Muawiyah—adalah sepupu Rasulullah SAW. Ayahnya, Harits bin Abdul Muthalib, adalah saudara Abdullah, ayah Nabi Muhammad. Hubungan keduanya menjadi semakin erat karena mereka disusui oleh Halimah Sa’diyah secara bersamaan. Mereka pun menjadi dua sahabat bermain yang saling mengasihi satu sama lain.
Karena hubungan yang demikian erat tersebut, maka kebanyakan orang menyangka Abu Sufyanlah yang akan paling dahulu menyambut seruan Rasulullah SAW, dan dialah yang paling cepat memercayai serta mematuhi ajarannya dengan setia.
Namun kenyataannya tidak. Bahkan sebaliknya, justru ketika Rasulullah mulai menyampaikan dakwah di kalangan kerabatnya secara sembunyi-sembunyi, api kebencian menyala di hati Abu Sufyan. Kepercayaan dan kesetiaannya selama ini berubah menjadi permusuhan. Hubungan kasih sayang sebagai satu keluarga, satu saudara, sebaya dan sepermainan, pupus dan berubah jadi pertentangan.
Abu Sufyan adalah penunggang kuda yang terkenal dan penyair berimajinasi tinggi. Dengan dua keistimewaannya itu, ia tampil memusuhi dan memerangi Rasulullah yang saat itu mulai berdakwah secara terang-terangan.
Bila kaum Quraisy menyalakan api permusuhan melawan Rasulullah dan kaum Muslimin, maka Abu Sufyan pasti tampil di antara mereka. Lidahnya yang selalu menyemburkan syair terus menyindir Rasulullah dengan kata-kata kotor dan menyakitkan hati. Keadaan itu terus berlangsung selama dua puluh tahun.
Akhirnya, Allah melapangkan dada Abu Sufyan untuk menerima Islam sebagai agamanya. Lalu bersama putranya, Ja’far, ia berangkat menemui Rasulullah di Madinah. 
Ketika bertemu Rasulullah, Abu Sufyan menjatuhkan diri di hadapan beliau. Namun Rasulullah memalingkan wajahnya, tidak mau menerima Abu Sufyan. Ia pun mendatangi Nabi dari arah lain, tetapi Rasulullah tetap menghindar. Hal itu terjadi beberapa kali. 
Setelah berlangsung beberapa lama, akhirnya Rasulullah menerima keislaman Abu Sufyan. Beliau bersabda, “Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan.”
“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudhu dan shalat,” pinta Abu Sufyan. Demikianlah, akhirnya Abu Sufyan memeluk agama Islam dan menjadi pelindung utama Rasulullah SAW.
Sejak keislamannya, Abu Sufyan menghabiskan waktunya dengan beribadah dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lalu dan mengejar ketertinggalannya.
Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah Fathu Makkah, ia selalu  ikut bersama Rasulullah. Ketika berlangsung Perang Hunain, Abu Sufyan tak mau ketinggalan dalam membela panji-panji Islam.
Kala itu Abu Sufyan tengah memegang erat kendali kuda Rasulullah. Ia ingin berjuang di jalan Allah dan syahid di hadapan beliau. Maka sambil memegang erat tali kekang dengan tangan kirinya, tangan kanannya memegang pedang seraya menebas tiap musuh yang mencoba mendekati dan menyerang Rasulullah SAW. Akhirnya kaum Muslimin meraih kemenangan dalam perang itu.
Ketika suasana agak tenang, Rasulullah memandang ke arah sekitarnya. Didapatinya seorang mukmin tengah memegang erat-erat tali kekang kudanya. Rupanya, sejak pertempuran berkecamuk, orang itu tetap berada di tempatnya dan tidak pernah meninggalkannya. Ia tetap berdiri melindungi Rasulullah.
Rasulullah menatapnya lekat-lekat, lalu berkata, “Siapakah ini? Oh, saudaraku Abu Sufyan bin Harits! Aku telah meridhaimu dan Allah telah mengampuni dosa-dosamu.”
Mendengar ucapan Rasulullah SAW itu, hati Abu Sufyan berbunga-bunga. Semangatnya kembali muncul. Ia pun kembali bergabung dalam barisan kaum Muslimin yang mengejar sisa-sisa pasukan musuh.
Sejak Perang Hunain itu, Abu Sufyan benar-benar merasakan nikmat Allah dan keridhaan-Nya. Dia merasa mulia dan bahagia menjadi sahabat Rasulullah. Hari-harinya dipenuhi dengan ibadah, mentadabburi Al-Qur’an, dan mengamalkannya. Dia berpaling dari kemewahan dunia, dan menghadap Allah dengan seluruh jiwa raganya.
Suatu ketika, Rasulullah melihatnya di dalam masjid. Beliau berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, tahukah kamu siapakah orang itu?”
“Tidak, ya Rasulullah,” jawab Aisyah.
“Dia anak pamanku, Abu Sufyan bin Harits. Perhatikanlah, dialah yang paling pertama masuk masjid dan paling terakhir keluar. Pandangannya tidak pernah beranjak dan tetap menunduk ke tempat sujud. Dialah ketua pemuda di surga.”
Pada masa pemerintahan Umar bin Al-Khathab, Abu Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Lalu digalinya kuburan untuk dirinya sendiri. Dan tidak lebih dari tiga hari setelah itu, maut pun datang menjemputnya, seolah memang telah berjanji sebelumnya.
Sebelum ruhnya meninggalkan jasad, ia berpesan kepada keluarganya, “Sekali-kali janganlah kalian menangisiku. Demi Allah, aku tidak melakukan dosa sedikit pun sejak masuk Islam.”
Khalifah Umar turut menyalatkan jenazahnya. Al-Faruq meneteskan air mata duka atas kepergian salah seorang sahabatnya itu.
 

 

Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan 

Dapatkan Pakej Umrah dari Travel Agensi Berlesen

Kisah Ushairim Bani Abdul-Asyhal yang masuk Syurga tetapi belum pernah Solat dan bersujud

Kisah Seseorang yang Masuk Surga yang Belum Pernah Shalat dan SujudKita sebagai umat Islam sangat wajib untuk mendirikan shalat dan melaksanakan kewajiban itu dengan ikhlas, karena shalat itu merupakan salah satu tiang agama dan kunci utama untuk masuk surga.

Bahkan, ketika hari perhitungan amal tiba maka amal yang pertama kali ditanya pada saat itu adalah shalat. Maka barangsiapa yang baik shalatnya dan baik segala amalnya maka ia pasti akan masuk kedalam surga.

Namun tahukah Anda bahwa ada sebuah kisah yang mengatakan bahwa ada seorang ahli surga tetapi ia belum pernah mengerjakan shalat dan sujud sama sekali dalam hidupnya hingga ia meninggal dunia?

Inilah salah satu bentuk kuasa dan kehendak Allah SWT atas segala sesuatu, mungkin menurut pandangan kita hal itu tidaklah mungkin terjadi, namun kisah ini memang benar adanya. Dan beginilah kisah seseorang tersebut.

Orang tersebut bernama Ushairim, dia adalah seseorang dari Bani Abdul Asyhal yang beruntung tersebut. Pada mulanya, ia tidak pernah pernah tertarik kepada Islam dan ia juga enggan menerima kebenaran akan Islam.

Namun, ketika perang Uhud berkecambuk ia mendapatkan hidayah dari Allah, dia datang menemui Rasulullah dan ia mengatakan bahwa dia ingin masuk Islam dan ikut berperang bersama Rasulullah. Pada saat itu juga ia bersyahadat, ia barsaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Setelah itu ia pun langsung mengambil pedangnya dan berangkat berperang bersama Rasulullah, ia berperang dengan penuh semangat hingga pada akhirnya ia mengalami beberapa luka di bagian tubuhnya.

Kemudian setelah perang tersebut selesai, beberapa orang dari Bani Abdul Asyhal datang untuk melihat para korban dalam perang ini. Kemudian mereka terkejut karena menemukan Ushairim dalam medan perang dan penuh luka.

Kemudian mereka bertanya kepada Ushairim, “Wahai Amr (Ushairim), apa yang menyebabkanmu berada di sini; karena setia kepada kaummu ataukah simpati kepada Islam?” kemudian ia menjawab, “Karena cintaku terhadap Islam, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian aku angkat senjataku dan aku berperang, sehingga aku terluka seperti ini.”.

Tak lama kemudian Ushairim akhirnya meninggal dunia, kemudian kabar kematian Ushairim sampai kepada Rasulullah, dan beliau bersabda: “Sungguh dia termasuk penghuni surga.”

Kisah ini bersumber dari riwayat Ibnu Sufyan maula Ibnu Abi Ahmad bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meminta kepada para sahabat dan berkata, “Ceritakan kepadaku mengenai kisah seseorang yang masuk Surga padahal belum pernah shalat sekali pun sepanjang hidupnya!”, namun diantara mereka tidak ada yang mengetahuinya.

Akan tetapi para sahabat balik bertanya, “Siapakah dia?” Abu Hurairah menjawab, “Ushairim Bani Abdul Asyhal ‘Amr bin Tsabit bin Waqsy.”

Al-Hushain berkata, “Aku bertanya kepada Mahmud bagaimana kehidupan Ushairim sebelumnya?” Mahmud menjawab, “Sebelumnya dia enggan memeluk Islam sebagaimana kaumnya, namun kemudian ia masuk Islam.

Ketika terjadi peperangan Uhud yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga berada dalam peperangan tersebut, ia ingin memeluk Islam dan ia pun lantas masuk Islam. Setelah itu, ia mengambil pedang dan berangkat menuju medan perang. Dia menyerang dan memberikan perlawanan sehingga terluka di beberapa bagian tubuhnya.

Tatkala orang-orang dari Bani Abdul Asyhal mencari para korban dalam peperangan ini, mereka mendapati Ushairim. Mereka bertanya, ‘Ini jasad Ushairim, apa yang menyebabkan dia datang dalam peperangan ini? Bukankah dia tidak berkenan ikut serta dalam peperangan ini?’

Mereka mempertanyakan status Ushairim sehingga berada dalam pertempuran ini, ‘Wahai Amr, apa yang menyebabkan kamu berada di sini. Karena setia kepada kaummu ataukah simpati kepada Islam?’

Amr menjawab, ‘Karena cintaku terhadap Islam, aku telah beriman kepada Allah dan Rasulullah, kemudian aku angkat senjataku dan aku berperang, sehingga keadaanku seperti ini.’ Ushairim meninggal dunia di tengah-tengah kaumnya, kemudian mereka memberitahukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya dia termasuk penghuni Surga’.”

Sungguh betapa beruntungnya Ushairim yang disaat-saat terakhir hidupnya ia mendapatkan hidayah Allah dan memilih jalan yang benar. Hingga pada akhirnya ia menjadi ahli surga meskipun belum pernah bersujud sama sekali kepada Allah SWT, inilah kehendak Allah.

Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan 

Dapatkan Pakej Umrah dari Travel Agensi Berlesen

Kisah Rasulullah s.a.w. Dan pengemis yahudi buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah s.a.w melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w. wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. 

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah itu?”, tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha. 

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu ?”. Abubakar r.a menjawab, “Aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya. 

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan 

Dapatkan Pakej Umrah dari Travel Agensi Berlesen

Perjalanan Isra’ Mi’raj: Langkah Bilal di Surga

Sepulang dari perjalanan isra’ mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada Bilan bin Rabah. Nabi berjumpa dengan dirinya di surga dalam perjalanan istimewa tersebut.

Tidak hanya Umar bin al-Khattab saja yang dilihat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan mi’raj beliau. Ada kisah yang menjadi hadiah istimewa juga untuk Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِنَبِيِّ اللهِ صلى الله عليه وسلم، دَخَلَ الجَنَّةَ، فَسَمِعَ مِنْ جَانِبِهَا وَجْسًا، قَالَ: يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟ قَالَ: هَذَا بِلالٌ الْمُؤَذِّنُ”. فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ جَاءَ إِلَى النَّاسِ: “قَدْ أَفْلَحَ بِلاَلٌ، رَأَيْتُ لَهُ كَذَا وَكَذَا…

“Pada malam isra Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memasuki surga. Saat itu beliau mendengar suatu suara. Beliau bertanya, ‘Hai Jibril, suara apa itu?’ Jibril menjawab, ‘Itu Bilal sang muadzin’. Saat bertemu dengan khalayak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh beruntung Bilal. Aku melihatnya dalam keadaan demikian dan demikian’.” (HR. Ahmad 2324).

Belia shallallahu ‘alaihi wa sallam bergitu gembira dengan kabar baik yang didapatkan oleh para sahabatnya. Melihat keadaan Bilal, beliau langsung bersegera menceritakannya kepada khalayak. Kemudian beliau ungkapkan dengan ucapan, “Sungguh beruntung Bilal.” Beliau doakan Bilal dan menanyakan amal apa yang membuatnya begitu cepat masuk ke dalam surga.

Diriwayatkan oleh al-Hakim. Ia menyatakan riwayatnya ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim. Walaupun keduanya tak meriwayatkannya. Dari Buraidah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا، فَدَعَا بِلاَلاً، فَقَالَ: “يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الجَنَّةِ؟ إِنِّي دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي”. فَقَالَ بِلاَلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “بِهَذَا”

“Suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Bilal, dengan amal apa kamu mendahului diriku di surga? Sungguh semalam aku memasuki surga. Aku mendengar derap bersuaramu (suara sandalnya) di depanku.” Bilal mennjawab, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku melakukan suatu dosa sama sekali melainkan (setelahnya) aku sholat dua rakaat. Dan tidaklah diriku berhadats (batal wudhu), melainkan aku langsung wudhu lagi dan sholat dua rakaat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkomentar, “Dengan amalan inilah (engkau begitu cepat masuk surga).” (HR. al-Hakim 1179).

Dari hadits ini, jangan dipahami bahwa Bilal lebih dulu masuk surga dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena kita tahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang pertama yang diizinkan masuk ke dalam surga. Sebagaiman dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“آتِي بَابَ الجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat. Aku minta agar pintu dibuka. Penjaga surga berkata, ‘Siapa Anda?’ Aku jawab, ‘Muhammad’. Ia berkata, ‘Untukmulah aku diperintahkan (membuka pintu). Aku tak akan membukanya untuk seorang pun sebelummu’.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman 197).

Ini adalah suatu kepastian yang akan terjadi di hari kiamat. Adapun ketika masih di dunia, Allah Ta’ala mengirim ruh Bilal radhiallahu ‘anhu ke surga. Ia mendahului Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi ini. Di sisi lain, Bilal sendiri tidak menyadari hal ini. Ia baru tahu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakannya.

Hadits ini juga menunjukkan tawadhu (kerendahan hati) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan betapa beliau senang membuat orang-orang di sekitarnya bahagia.

Dalam hadits ini, kita juga mendapat pelajaran betapa besar pahala dua rakaat shalat yang disebut oleh Bilal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan ath-Thabrani dengan sanad yang tsiqat, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di surga saat perjalanan mi’raj, beliau mendengar suatu suara.

فَقَالَ: “يَا جِبْرِيلُ، مَا هَذِهِ الْخَشْخَشَةُ؟ قَالَ: هَذَا بِلاَلٌ”. قَالَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه: لَيْتَ أُمَّ بِلاَلٍ وَلَدَتْنِي وَأَبُو بِلاَلٍ، وَأَنَا مِثْلُ بِلاَلٍ.

Beliau bertanya, “Hai Jibril, suara apa itu?” Jibril menjawab, “Itu Bilal.” Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berkata, “Sekiranya ibu dan bapaknya Bilal melahirkanku. Sehingga aku menjadi seperti Bilal.” (HR. ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 22/137 No: 18214).

Abu Bakar radhiallahu ‘anhu begitu antusias mendapat kebaikan. Ia berharap menjadi seperti Bilal, padahal ia lebih utama dari Bilal. Dialah yang membebaskan Bilal dari perbudakan.

Dalam kitab-kitab sunan, kedudukan Umar dan Bilal radhiallahu ‘anhuma ini dikisahkan secara bersamaan. Diriwayatkan oleh at-Turmudzi dan dishahihkan oleh al-Albani, dari Buraidah radhiallahu ‘anhu ia berkata,

أَصْبَحَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ: “يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الجَنَّةِ؟ مَا دَخَلْتُ الجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي، دَخَلْتُ البَارِحَةَ الجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي، فَأَتَيْتُ عَلَى قَصْرٍ مُرَبَّعٍ مُشْرِفٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ فَقَالُوا: لِرَجُلٍ مِنَ العَرَبِ. فَقُلْتُ: أَنَا عَرَبِيٌّ، لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا: لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ. فَقُلْتُ: أَنَا قُرَشِيٌّ، لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا: لِرَجُلٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم. فَقُلْتُ: أَنَا مُحَمَّدٌ لِمَنْ هَذَا القَصْرُ؟ قَالُوا: لِعُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ”. فَقَالَ بِلاَلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ، وَمَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ للهِ عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “بِهِمَا”.

“Di pagi hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal. Beliau bertanya, ‘Hai Bilal, apa yang membuatmu mendahuluiku di surga? Aku memasuki surga, dan tak kudengar apapun kecuali ada suara di depanku. Semalam aku memasuki surga, aku mendengar ada derap suara di depanku.

Aku juga mendatangi sebuah istana persegi yang terbuat dari emas. Aku bertanya, ‘Istana siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki Arab’. Kujawab, ‘Aku seorang laki-laki Arab. Punya siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki Quraisy’. Kujawab lagi, ‘Aku juga seorang Quraisy. Milik siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik seorang laki-laki dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’. Kukatakan, ‘Akulah Muhammad. Milik siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Milik Umar bin al-Khattab’.

Bilal berkata, ‘Hai Rasulullah, tidaklah aku mengumandangkan adzan kecuali setelahnya aku shalat dua rakaat. Dan tidak pula aku berhadats (wudhuku batal), kecuali aku berwudhu kembali. Dan aku memandang untuk Allah dua rakaat kupersembahkan’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, ‘Karena dua rakaat inilah’.” (HR. At-Turmudzi dalam Kitab Manaqib, Bab Manaqib Umar bin al-Khattab 3689 dan Ahmad 23090).

Dua kisah, yaitu kisah Umar dan Bilal, memotivasi seorang muslim untuk semakin giat ibadah agar bisa masuk ke dalam surga. Kisah ini pula menunjukkan kemuliaan Umar dan Bilal. Tidak seperti keyakinannya orang-orang Syiah.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan 

Dapatkan Pakej Umrah dari Travel Agensi Berlesen

Kisah Nabi Idris AS melawat Neraka & Syurga

 

 

Nabi Idris AS merupakan keturunan ke-6 daripada Nabi Adam AS dan nabi ke-3 setelah Nabi Adam dan Syits. Salasilahnya ialah Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam AS. Menurut kitab tafsir, Nabi Idris hidup 1000 tahun selepas wafatnya Nabi Adam AS pada sekitar tahun 4533 sehingga 4188 SM.

 

Di dalam beberapa kisah, Nabi Idris AS diceritakan sebagai manusia pertama yang mengenal tulisan, menguasai ilmu bahasa, ilmu hisab, ilmu alam dan ilmu astronomi. Nabi Idris juga dikisahkan sebagai seorang yang sangat jujur dan sangat sabar seperti yang diriwayatkan di dalam Al-Qur’an:

“Dan bacakanlah (wahai Muhammad) di dalam Kitab (Al-Quran) ini perihal Nabi Idris; sesungguhnya adalah ia amat benar (tutur katanya dan imannya), serta ia seorang Nabi.”

[QS. Maryam : 56]

“Dan (demikianlah pula) Nabi-nabi Ismail dan Idris serta ZulKifli; semuanya adalah dari orang-orang yang sabar.”

[QS. Al-Anbiya : 85]

Nabi Idris juga menjadi salah seorang yang ditemui oleh Nabi Muhammad SAW ketika melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Mereka bertemu di langit yang ke-4.

Diriwayatkan dari Abbas bin Malik:

“Gerbang telah terbuka, dan ketika aku pergi ke langit keempat, disana aku melihat Idris. Jibril berkata (kepadaku). ‘Ini adalah Idris; berilah dia salammu.’ Maka aku mengucapkan salam kepadanya dan ia mengucapkan salam kepadaku dan berkata. ‘Selamat datang, wahai saudaraku yang alim dan nabi yang saleh.”

[Sahih Bukhari 5:58:227]

Dikunjungai Malaikat Maut

Suatu ketika Nabi Idris a.s telah dikunjungi oleh Malaikat Maut, lalu Nabi Idris a.s katanya: “Hai malaikat maut, kedatanganmu ini untuk mencabut nyawa atau untuk menziarah?.” Kata Malaikat Maut “aku datang untuk menziarah dengan izin Allah.”

Tanya Nabi Idris AS kepada Malaikat Maut lagi, “Hai Malaikat Izrail, aku ada permintaan kepadamu” Kata Malaikat Maut “permintaan apakah itu?” Jawab Nabi Idris “permintaan supaya engkau mencabut nyawaku dan kemudian Allah SWT menghidupkan kembali sehingga aku dapat beribadah kepada-Nya setelah aku merasakan sakaratulmaut”.

 

Malaikat Maut menjawab “sesungguhnya aku tidak akan mencabut nyawa seseorang itu tanpa izin Allah.” Lalu Allah SWT menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut agar mencabut nyawa Nabi Idris AS.

Ketika itu juga Malaikat Maut mencabut nyawa Nabi Idris AS lalu menangislah Malaikat Maut sambil memohon agar Allah SWT menghidupkan kembali Nabi Idris AS.

Allah SWT mengabulkan permintaan Malaikat Maut, maka Nabi Idris dihidupkan kembali. Malaikat Maut lalu bertanya kepada Nabi Idris AS “Wahai Idris, bagaimana rasanya sakaratulmaut itu? Kata Nabi Idris AS “Sesungguhnya rasa sakaratul maut itu saya seperti binatang dilapah kulitnya (dibuang kulitnya semasa hidup-hidup) dan begitulah rasanya sakaratulmaut bahkan seribu kali lebih sakit.”

Perjalanan ke Neraka dan Syurga

Nabi Idris AS berkata lagi kepada Malaikat Maut: “Saya mempunyai hajat lagi iaitu ingin melihat Neraka Jahannam supaya saya boleh beribadah kepada Allah SWT dengan lebih tekun lagi.” Jawab Malaikat Maut “”Bagaimana aku boleh pergi ke Neraka Jahannam tanpa izin Allah?”

Maka Allah SWT menurunkan wahyu: “Pergilah engkau ke Neraka Jahannam bersama Idris.” Setibanya di hadapan pintu neraka Nabi Idris AS pengsan melihat wajah Malaikat Malik yang sangat menyeramkan serta bagaimana dahsyatnya api neraka membakar manusia dengan segala macam bentuk seksaan.

Setelah Nabi Idris AS kembali sedar dia bertanya lagi kepada Malaikat Maut “Saya mempunyai keinginan lagi iaitu ingin melihat syurga supaya dapat menambahkan lagi ketaatan kepada Allah SWT. Maka Allah memberi izin kepada Malaikat Maut untuk membawa Nabi Idris AS sampai ke pintu syurga dan disambut dengan salam oleh Malaikat Ridwan.

Nabi Idris AS melihat dari pintu syurga pelbagai nikmat dengan istana-istana yang besar serta pelbagai tumbuhan yang diciptakan Allah SWT di dalamnya. Kemudian Nabi Idris AS berkata kepada Malaikat Maut, “Wahai saudaraku, mohonlah kepada Allah agar aku diizinkan untuk masuk ke dalam syurga dan minum air di dalamnya agar hilang rasa sakitnya sakaratulmaut di kerongkongku ini.”

Tidak mahu meninggalkan Syurga

Lalu Malaikat Maut memohon kepada Allah dan diizinkan mereka untuk masuk ke dalam syurga. Ketika berada di dalamnya Nabi Idris AS meletakkan kasutnya di bawah sebuah pohon dan apabila mereka keluar dari syurga Nabi Idris AS berkata “Hai Malaikat Maut, kasut saya tertinggal di bawah sepohon pokok di dalam syurga, izinkanlah aku kembali mengambilnya.

Setelah masuk semula ke dalam syurga, Nabi Idris AS tidak mahu keluar lagi kerana nikmatnya maka Malaikat Maut berteriak kepadanya, “hai Idris, keluarlah engkau dari syurga”. Nabi Idris enggan dan berkata “setiap yang hidup itu akan mati dan sesungguhnya aku telah merasakan mati”.

Maka Allah SWT berfirman lagi:

“Tidak ada diantara kamu kecuali mereka itu memasuki syurga sedang aku pernah memasuki neraka dan  tidaklah mereka itu dikeluarkannya (daripada syurga).”

Allah berfirman lagi kepada Malaikat Maut:

“Tinggalkanlah dia (Nabi Idris AS), sesungguhnya Aku telah memutuskan sejak azali lagi bahawa sesungguhnya dia tergolong ahli dan penghuni syurga.”
“Dan ingatlah olehmu cerita-cerita dalam kitab Nabi Idris AS dan seterusnya”

Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan 

Dapatkan Pakej Umrah dari Travel Agensi Berlesen